Pages

Subscribe:

Hot News

News image

Pato Jadi Tumpuan

MILAN – Perjalanan AC Milan di ajang Liga Champions musim 2011/12 akan dimulai Selasa (13/9) atau Rabu dini ... Selengkapnya

News image

Ujian Berat!

BARCELONA – Barcelona berambisi mempertahankan gelar Liga Champions yang mereka raih... Selengkapnya

News image

Persipura Ubah Taktik

PAPUA – Jacksen F. Tiago, pelatih Persipura Jayapura, mengaku harus mengubah sedikit strategi bermain menyusul absennya Gerald Pangkali dan Johannes ... Selengkapnya

News image

Pemain Mulai Melunak

JAKARTA – Ketegangan antara beberapa pemain dan pelatih timnas Wilhelmus “Wim” Rijsbergen diharapkan mereda. Beberapa pemain yang sebelumnya mengancam mogok ... Selengkapnya

Senin, 05 Juli 2010

Jual Beli dan Riba

I. Jual Beli
A. Pengertian jual beli Jual beli secara etimologis, berarti saling menukar. Sedangkan menurut syariat, jual beli adalah pertukaran harta kepemilikan dan menjadi hak milik. Sebagian ulama berpendapat bahwa jual beli berarti memindahkan milik dengan ganti yang dapat dibenarkan dan serupa untuk selamanya
B. Hukum jual beliJual beli menuruut hukum asalnya, telah diperbolehkan dalam islam berdasarkan Al-Quran, Al-Sunnah dan Ijma ulama’. Ulama telah sepakat bahwa berniaga itu diperbolehkan secara total, selama tidak mengabaikan dan meninggalkan perbuatan-perbuatan wajib. Apabila menyebabkan pelakunya meninggalkan kewajiban, maka perniagaan itu memang demikian dilarang oleh agama (QS.Al-Jum’ah:9).Begitu juga transaksi jual beli dalam rangka membantu kemaksiatan, atau mengakibatkan hal-hal yang dilarang agama, dilarang dalam syariat islam. Alasannya dalam islam, sarana mempunyai kedudukan yang sama dengan tujuan.

C. Rukun jual beliMenurut ulama fiqh, rukun jual beli ada tiga, yaitu penjual, pembeli, benda (barang) yang diperjual belikan, dan ijab Qobul (transaksi), yaitu penjual menyerahkan barang dan pembeli menerimanya setelah membayar dengan harga yang telah disepakati bersama. Setiap rukun tersebut mempunyai syarat-syarat tertentu :1. Syarat Penjual dan PembeliAda beberapa syarat yang harus dipenuhi bagi penjual dan pembeli.a. Berakal shat. Orang gila atau bodoh tidak sah jual belinya, sebab ia dibawah kekuasaan walinya. (QS. Al-Nisa’ : 5)b. Baligh (dewasa). Anak kecil tidak sah jual belinya. c. Atas dasar kemauan sendiri. Menjual atau membeli sesuatu atas paksanaan orang lain tidak sah hukumnya. Dalam sebuah hadits dijelaskan : jual beli itu hanya sah dengan suka sama suka”.2. Syarat-syarat barang yang diperjual belikan.Adapun barang-barang yang diperjual belikan harus memiliki persyaratan berikut :a. Barang itu milik syah penjualb. Barang itu suci. Barang najis tidak sah diperjual belikan, seperti arak, bangkai, dllc. Barang itu ada manfaatnya. Barang yang tidak ada manfaatnya, seperti jual beli semut, nyamuk dan sebagainyad. Barang itu jelas dan dapat diserahterimakan. Jual beli barang yang tidak jelas dan tidak dapat diserah terimakan seperti menjual ikan yang masih ada dilaut – tidak sah. Jual beli seperti ini termasuk penipuan dan dilarang agama.e. Kualitas barang tersebut jelas.3. Syarat ijab dan qabulJual beli berlangsung dengan ijab dan qabul, terkecuali untuk barang-barang kecil, cukup dengan saling memberi sesuatu dengan adat kebiasaan yang berlaku. Dalam praktek ijab qabul ini tidak ada kemestian menggunakan kata-kata khusus, karena ketentuan hukumnya ada pada akad dengan tujuan dan makna. Yang terpenting adanya saling rela yang direalisasikan dalam bentuk mengambil dan member atau cara lain yang dapat menunjukkan kerelaan dan berdasarkan makna pemilikan dan mempermilikan. Ada beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam ijab dan qabul. :a. Ucapan ijab dan qabul harus bersambung. Artinya, setelah sipenjual mengucapkan ijab, sipembeli hendaklah mengucapkan qabul.b. Ada persesuaian antar ijab dan qabul ; jika tidak ada kesesuaian, akad jual-belinya tidak sah, misalnya sipenjual berkata, saya jual kain ini seharga Rp. 20.000, lalu sipembeli berkata, “saya beli baju ini seharga Rp. 10.000 c. Ijab dan qabul tidak disangkut-pautkan dengan yang lain. Si penjual berkata, “jika saya jadi pergi , saya jual barang ini sekian.d. Ijab dan qabul tidak boleh memakai jangka waktu. Misalnya kata penjual “saya jual barang ini kepada anda dengan harga sekian dan dalam waktu seminggu.”D. Khiyar dalam jual beliKhiyar menurut bahasa artinya “memilih yang terbaik”. Menurut istilah syara’, penjual dan pembeli boleh memilih antara meneruskan atau menggagalkan jual belinya. Tujuannya, agar dua orang yang jual-beli dapat memikirkan kemaslahatan masing-masing lebih jauh, supaya tidak terjadi penyesalan dikemudian hari, karena masing-masing merasa puas terhadap jual –beli yang mereka lakukan.Khiyar ada tiga macam, yaitu :1. Khiyar Majlis, yaitu penjual dan pembeli boleh memilih antara dua (meneruskan atau menggagalkan jual-belinya) selama keduanya masih ditempat jual beli. Sabda Rasululloh saw : “dua orang yang berjual-beli boleh memilih (meneruskan atau menggagalkan jual beli) selama keduanya belum terpisah”.2. Khiyar Syarat, yaitu khiyar yang dijadikan syarat sewaktu dilakukan akad oleh keduanya atau salah satu dari keduanya. Masa khiyar syarat paling lama tiga hari tiga malam, terhitung mulai akad jual –beli dilakukan. Nabi bersabda, “engkau boleh memilih (Khiyar) dalam setiap barang yang engkau beli selama tiga hari tiga malam”.3. Khiyar Aibi, yaitu khiyar yang sipembeli boleh mengembalikan barang yang dibelinya dan sipenjual boleh menerimanya apabila barang yang dibeli itu terdapat cacat yang mengurangi nilai harga barang itu.Khiyar mengandung beberapa hikmah, diantaranya sebagai berikut :1. Menghindarkan terjadinya bagi kedua belah pihak 2. Memperkecil kemugkinan terjadinya penipuan dalam jual beli. Sebab dengan adanya khiyar, pihak pembeli lebih leluasa untuk memilih dan menentukan barang yang akan dibelinya.3. Mendidik para penjual dan pembeli agar bersikap hati-hati, cermat dan teliti dalam bertransaksi.4. Menumbuhkan sikap toleransi antara kedua belah pihak.II. RibaA. Pengertian RibaSecara etimologi, Riba berarti tambahan. dalam Fath Barri disebutkan bahwa asal kata riba yaitu tambah, seperti bertambahnya sesuatu sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hajj ayat 5.B. Macam-macam RibaMenurut para ulama, riba ada empat macam :a. Riba Fadhli, yaitu tukar menukar barang sejenis yang barangnya sama, tetapi jumlahnya berbeda. Misalnya menukar 10 Kg beras dengan 11 Kg beras. b. Riba Qardi, yaitu utang piutang dengan menarik keuntungan bagi piutangnya. Misalnya, seorang berutang Rp. 25.000,- dengan perjanjian akan dibayar Rp. 26.000,- ; atau seperti rentenir yang meminjamkan uangnya dengan pengembalian 30% tiap bulan.c. Riba Iyadh, yaitu jual beli yang dilakukan seseorang sebelum menerima barang yang dibelinya dari si penjual. Hal ini tidak boleh dilakukan karena barang yang dibeli belum diterima dan masih dalam ikatan jual beli yang pertamad. Riba Nasa’I, yaitu melebihkan pembayaran barang yang diperjual-belikan atau diutangkan karena dilambatkan waktu pembayarannya. Misalnya, menjual emas seharga Rp. 20.000,- jika dijual kontan, tetapi dijual Rp. 30.000 jika diangsur.Adapun barang-barang yang berlaku padanya adalah emas, perak dan makanan pokok. Jual beli barang seperti, kalau sama jenisnya – seperti emas dengan emas – disyaratkan tiga hal, yaitu tunai, timbang terima, dan sama timbangannya. Jika berlainan jenis illat ribanya –seperti emas dengan perak -boleh tidak sama timbangnnya, tetapi mesti tunai dan timbang terima. Jika berlainan jenis dan ilat ribanya seperti perak dan dengan beras, boleh dijual sebagaimana barang yang lain, berarti tidak disyariatkan dari tiga syarat tadi.Sebagimana dalam jual-beli,dalam pengharaman riba ini terdapat bebrapa hikmah, diantaranya sebagai berikut :a. Agar manusia mengetahui usaha yang dihalalkan dan diharamkan yang berimplikasi terhadap perilaku keseharian mereka.b. Sebagai bukti bahwa orang yang beriman dan bertakwa senantiasa meninggalkan barang ribac. Agar manusia menjauhi barang riba baik yang langsung maupun tidak langsung.d. Dalam rangka kepedulian social, maka pengharaman riba dapat menghindarkan diri dari pemerasan dan penindasan kaum rentenir terhadap kelompok-kelompok yang ekonominya lemahBAB IIINikahA. Pengertian nikah Nikah secara etimologi, berarti mengumpulkan (al-dhamm) dan menggauli (al-Wath’). Dalam pengertian majaz, orang menyebut nikah dengan akad, sebab akad lah yang memperbolehkan (orang melakukan senggama).Secara terminology, terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama. Menurut Hanafiah, nikah adalah akad yang memberikan faedah memiliki, bersenang-senang dengan sengaja. Syafi’iyah berpendapat bahwa nikah adalah akad yang mengandung ketentuan hukum diperbolehkannya watha’ (senggama) dengan lafadz nikah atau tajwiz atau yang semakna dengannya. Malikiyah berpendapat bahwa nikah adalah akad yang mengandung ketentuan hukum yang semata-mata untuk memperbolehkan watha’, senang-senang dan menikmati apa yang ada pada diri wanita yang nikah dengannya. Menurut Hanabilah, nikah adalah akad yang mempergunakan lafadz nikah atau tajwiz untuk memperbolehkan manfaat bersenang-senang dengan wanita.Para ulama mutaakhirin, sebagaimana yang dikemukakan Abu Zahra,d alam mendefiniskan nikah memasukkan unsur hak dan kewajiban suami istri kedalam pengertian nikah. Menurutnya, nikah adalah akad yang mengakibatkan pergaulan antar laki-laki dan perempuan serta pembatasan milik, hak, dan kewajiban mereka.Dalam undang-undang perkawinan nomor 1 tahun 1974 disebutkan bahwa perkawinan adalah seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang maha esa.B. Hukum pernikahanMengenai hukum asal nikah, para ulama berbeda pendapat. Menurut dzahiriyah, melakukan nikah tanpa terkait dengan kondisi pribadi pelaku hukumnya wajib. Menurut Abu hanifah, Ahmad bin Hambal dan Malik bin Anas, asal hukum nikah itu dianjurkan (sunnah). Sedangkan dalam pandangan syafi’I, penikahan itu mubah atau dibolehkan. Yang keluar dari perintah al-quran dan al-sunnah adalah perkawinan itu wajib bagi seseorang yang memiliki kekayaan yang cukup untuk membayar mahar, member nafkah pada istri dan anak-anak, sehat jasmani dan khawatir kalau-kalau tidak menikah akan terjerumus kedalam zina.C. Hikmah NikahIslam menganjurkan menikah. Itu merupakan kabar gembira, sebagaimana terdapat dalam al-quran dan al-sunnah, karena nikah berpengaruh besar (secara positif), baik bagi pelakunya, masyarakat maupun seluruh umat manusia. Jadi, banyak sekali hikmah yang terkandung dalam nikah, baik ditinjau dari aspek social, psikologis maupun kesehatan. Diantara hikmah nikah adalah :1. Menyalurkan naluri seks.Naluri seks merupakan naluri terkuat yang selamanya menuntut jalan keluar. Orang yang tidak bisa mencarikan jalan keluar untuk memuaskannya, sering mengalami kegoncangan dan kekacauan. Bahkan tidak jarang seseorang melakukan kejahatan karenanya. Menikah merupakan jalan keluar yang paling aman untuk menyalurkan naluri seks ini. Dengan menikah, badan menjadi sehat dan segar, jiwa menjadi menjadi tenang, mata terpelihara dari melihat hal-hal yang haram (QS. Al-Rum : 21).2. Jalan mendapatkan keturunan yang sah.Nikah merupakan jalan terbaik untuk mendapatkan keturunan mulia (terhormat).3. Penyaluran naluri kebapakan dan keibuan Pada mereka yang telah menikah dan memperoleh anak, naluri kebapakan dan keibuan akan tumbuh salang melengkapi dalam suasana hidup kekeluargaan . ini akan menimbulkan perasaan ramah, saling mencintai, dan saling menyayangi antara satu dengan lainnya.4. Dorongan untuk bekerja kerasOrang yang telah meniakh dan memperoleh anak akan terdorong menunaikan tanggung jawab dan kewajibannya dengan baik, sehingga ia akan bekerja keras untuk melaksanakan kewajiban.5. Pengaturan hak dan kewajiban dalam rumah tanggaMelalui perkawinan, akan timbul hak dan kewajiban suami-istri secara seimbang, juga adanya pembagian tugas antara suami-istri dalam hubungannya dengan perkembangan generasi yang baik dimasa mendatang.D. MeminangI. Pengertian meminangMeminang (al-Khitbah) artinya permintaan seorang laki-laki kepada seorang perempuan untuk menikahinya, baik itu dilakukan oleh laki-laki secara langsung maupun oleh pihak yang dipercayanya sesuai dengan ketentuan agama.II. Wanita yang boleh dipinang Dalam hal ini ada beberapa syarat wanita yang boleh dipinang. Pertama, pada waktu dipinang tidak ada halangan hukum yang melarang melakukan pernikahan. Dalam hukum islam, ada wanita yang dikategorikan mahram (haram untuk dinikahi), baik untuk sementara maupun untuk selamanya. Wanita yang haram dinikahi adakalanya dikarenakan adanya hubungan nasab, hubungan susuan, atau hubungan perkawinan (musakharah)Kedua, belum dipinan oleh orang lain secara sah. Dalam hal ini Rasululloh saw pernah menyatakan bahwa tidak boleh seseorang meminang kepada orang yang telah dipinang oleh orang lain.E. hak dan kewajiban suami istripernikahan yang dilangsungkan dengan persyaratan dan rukunnya yang sempurna menjadi sah dan selanjutnya mempunyai akibat hukum yang mengikat berupa hak dan kewajiban, baik yang ada pada suami, istri, atau keduanya secara bersama-sama.I. kewajiban suami terhadap istri1. Membayar maharFirman Allah dalam Al-Quran surat An-Nisa’ : 24 “maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) diantara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna) sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang telah kamu saling merelakannya, sesudah mentukan mahar itu. Sesunguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”2. Memberi nafkah (makan, pakaian, tempat tinggal) sesuai dengan kemampuannya.“hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaknya memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar ) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (QS. Ath-thalaq : 7)3. Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang, tanpa kasar dan zhalim. “dan gaulilah mereka secara patut…… “(An-Nisa': 19) Dari Abu Hurairah ra ia berkata : Rasulullah SAW telah bersabda : “orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik ahklaqnya dan orang yang paling baik diantara kamu sekalian adalah yang paling baik terhadap istrinya” (HR. Ahmad dan At-Turmudzi).4. Suami wajib berlaku adil dan bijaksana terhadap istri. jika ia memiliki istri lebih dari satu, maka Ia berbuat adil terhadap mereka baik dalam hal makanan, minuman, pakaian, rumah, dan tidur di ranjang, ia tidak boleh bersikap curang dalam hal-hal tersebut, atau bertindak zhalim, karena ini diharamkan oleh Allah. Allah berfirman : ”Kemudian jika kalian takut tidak bisa berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak wanita yang kalian miliki.” [an Nisa: 3] Rasulullah mewasiatkan perlakuan yang baik terhadap istri-istri dalam sabdanya:” Orang terbaik dari kalian ialah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku orang terbaik dari kalian terhadap keluargaku.” [Diriwayatkan oleh ath Thabrani dengan sanad yang baik]. 5. Jika istri berbuat 'Nusyuz', (Kedurhakaan istri kepada suami dalam hal ketaatan kepada Allah), maka dianjurkan melakukan tindakan berikut ini secara berurutan : a. Memberi nasehat tanpa mencaci maki atau menjelek-jelekkannyab. Pisah kamar selama tiga malam, Jika istri tetap tidak taat, c. Memukul dengan pukulan yang tidak melukainya, tidak diwajah, tidak mengucurkan darah, dan tidak membuat salah satu organ tubuhnya tidak dapat menjalankan tugasnya, karena firman Allah: ”Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya (pembangkangannya), maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta’ati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.” [an Nisa’: 34]Juga sabda Rasulullah tentang hak istri : ”Hendaklah engkau memberinya makan jika engkau makan, engkau memberinya pakaian jika engkau berpakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menjelek-jelekkannya, tidak mendiamkannya kecuali di dalam rumah” [Diriwayatkan Abu Dawud dengan sanad yang baik].6. Suami wajib selalu memberikan pengertian, bimbingan agama kepada istrinya, dan menyuruhnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mengajarkan persoalan-persoalan yang urgen dalam agama kepada istri jika belum mengetahuinya, atau mengizinkannya menghadiri forum-forum ilmiah untuk belajar di dalamnya, sebab kebutuhan untuk memperbaiki kualitas agama dan menyucikan jiwanya itu tidak lebih sedikit dari kebutuhannya terhadap makanan, dan minuman yang wajib diberikan kepadanya. Allah berfirman : ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” [at Tahrim: 6]Serta sabda Rasulullah : ”Ketahuilah, hendaklah kalian memperlakukan wanita-wanita dengan baik, karena mereka adalah ibarat tawanan-tawanan pada kalian.” (Muttafaq alaih). Suami wajib mengajarkan istrinya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan wanita (hukum-hukum haidh, istihadhah, dll.). (AI-Ghazali) 6. Suami tidak boleh membuka aib istri kepada siapapun. (Nasa'i) sebab ia orang yang diberi kepercayaan terhadapnya, dituntut menjaga dan melindunginya. Rasulullah bersabda : ”Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah ialah suami yang menggauli istrinya dan istrinya bergaul dengan suaminya, kemudian ia membeberkan rahasia hubungan suami-istri tersebut” [Diriwayatkan Muslim].7. Mewajibkan istri melaksanakan ajaran-ajaran islam beserta etika-etikanya, melarang buka aurat, berhubungan bebas (ikhtilat) dengan laki-laki yang bukan mahramnya, memberikan perlindungan yang memadai kepadanya dengan tidak mengizinkannya merusak akhlak atau agamanya dan tidak membuka kesempatan baginya untuk menjadi wanita fasik terhadap perintah Allah dan RasulNya, atau berbuat dosa, sebab dia adalah penanggung jawab dengan istrinya dan perintahkan menjaganya dan mengayominya. Berdasarkan firman Allah : ”Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. [an Nisa’] Dan berdasarkan sabda Rasulullah : ”Seorang suami adalah pemimpin di rumahnya, dan ia akan dimintai pertanggung jawab tentang kepemimpinannya” [Muttafaq Alaih].8. Apabila istri tidak mentaati suami (durhaka kepada suami), maka suami wajib mendidiknya dan membawanya kepada ketaatan, walaupun secara paksa. (AI-Ghazali) II. Kewajiban Istri terhadap suami1. Taat kepadanya selama tidak dalam kemaksiatan kepada Allah. Allah berfirman : ”Kemudian jika mereka menaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.” [an Nisa’ : 34]Sabda Rasulullah : ”Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, kemudian istrinya tidak datang kepadanya, dan suaminya pun marah kepadanya pada malam itu, maka istrinya dilaknat para malaikat hingga pagi harinya” [Muttafaq alaih].2. Menjaga kehormatan dirinya dan suaminya, kemuliaannya, hartanya, anak-anaknya, dan urusan rumah tangganya.Firman Allah : “Maka wanita-wanita yang shalihah ialah wanita-wanita yang taat kepada Allah yang memelihara diri mereka ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” [an Nisa’: 34]3. Tetap berada di rumah suami dalam arti tidak keluar kecuali atas izin dan keridhaannya, menahan pandangan dan merendahkan suaranya, menjaga tangannya dari kejahatan, dan menjaga mulutnya dari perkataan kotor yang bisa melukai kedua orang tua, suaminya, atau sanak keluarganya. Allah berfirman : ”Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.” [al Ahdzab: 33].“Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.” [al Ahzab: 32].“Allah tidak menyukai ucapan yang buruk.”[an Nisa’ :148]. “Katakanlah kepada wanita-wanita beriman, Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. [An Nuur: 31]. Dan Rasulullah bersabda : “Kalian jangan melarang wanita-wanita hamba-hamba Allah untuk pergi ke masji-masid Allah. Jika istri salah seorang kalian meminta izin kepada kalian untuk pergi ke masjid-masjid,engkau jangan melarangnya.” [Diriwayatkan Muslim, Ahmad, Abu dawud, dan at Tirmidzi].4. Mendidik anak-anak5. Menyenangkan hati suami6. Selalu memenuhi hajat biologis suaminya. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : ”Ketika seorang perempuan melalui malam dengan meninggalkan suami di tempat tidur, para malaikat akan mengutuknya sampai pagi hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Tidak ada yang lebih baik di dunia ini bagi seorang muslim setelah menyembah Allah, selain mendapatkan istri yang shaleh, cantik apabila dipandang, patuh apabila diperintah, memenuhi sumpah pernikahan, menjaga dirinya dan kekayaan suami di saat suami pergi, mengasuh anak-anaknya, tidak membiarkan orang lain masuk ke rumah tanpa ijin suami, dan tidak menolak apabila suami memanggil ke tempat tidur..” (HR. Bukhari dan Muslim)7. tidak memasukkan orang lain kedalam rumah tanpa seidzin suami.Sabda Rasulullah, “Maka hak kalian atas istri-istri kalian ialah hendaknya orang-orang yang kalian benci tidak boleh menginjak ranjang-ranjang kalian, dan mereka tidak boleh memberi izin masuk rumah kepada orang-orang yang tidak kalian sukai.” [Diriwayatkan at Tirmidzi dan Ibnu Majah].III. kewajiban Bersama Suami Istri 1. Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan suasana mawaddah dan rahmah. “dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang . sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir” (Ar-Rum : 21) 2. Hendaknya saling mempercayai dan memahami sifat masing-masing pasangannya. (An-Nisa': 19 - Al-Hujuraat: 10) 3. Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang harmonis. (An-Nisa': 19) 4. Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan. “Saling tolong menolonglah dalam hal kebaikan dan ketaqwaan, dan janganlah tolong menlong didalam hal (perbuatan) dosa dan permusuhan” (QS. 5. Bersabar apabila ditemukan keburukan dari salah satu pihak. Sesuai sabda nabi : “barang siapa yang bersabar terhadap keburukan akhlaq istrinya, maka Allah akan memberinya pahala sebagaimana pahalanya Nabi Ayyub (yang bersabar) dalam menghadapi cobaannya. Dan barang siapa yang bersabar terhadap keburukan akhlaq suaminya, maka Allah akan memberinya pahala sebagaimana pahalanya Asiyah istri Fir’aun.” BAB IVKesimpulan1. Jual beli secara etimologis, berarti saling menukar. Sedangkan menurut syariat, jual beli adalah pertukaran harta kepemilikan dan menjadi hak milik.2. Jual beli menuruut hukum asalnya, telah diperbolehkan dalam islam berdasarkan Al-Quran, Al-Sunnah dan Ijma ulama’3. Menurut ulama fiqh, rukun jual beli ada tiga, yaitu penjual, pembeli, benda (barang) yang diperjual belikan, dan ijab Qobul (transaksi)4. Khiyar menurut bahasa artinya “memilih yang terbaik”. Menurut istilah syara’, penjual dan pembeli boleh memilih antara meneruskan atau menggagalkan jual belinya5. Khiyar ada tiga macam, yaitu :a. Khiyar Majlis, yaitu penjual dan pembeli boleh memilih antara dua (meneruskan atau menggagalkan jual-belinya) selama keduanya masih ditempat jual beli. b. Khiyar Syarat, yaitu khiyar yang dijadikan syarat sewaktu dilakukan akad oleh keduanya atau salah satu dari keduanya. Masa khiyar syarat paling lama tiga hari tiga malam, terhitung mulai akad jual –beli dilakukan. c. Khiyar Aibi, yaitu khiyar yang sipembeli boleh mengembalikan barang yang dibelinya dan sipenjual boleh menerimanya apabila barang yang dibeli itu terdapat cacat yang mengurangi nilai harga barang itu.6. Secara etimologi, Riba berarti tambahan. 7. Menurut para ulama, riba ada empat macam :a. Riba Fadhli, yaitu tukar menukar barang sejenis yang barangnya sama, tetapi jumlahnya berbeda. b. Riba Qardi, yaitu utang piutang dengan menarik keuntungan bagi piutangnya. c. Riba Iyadh, yaitu jual beli yang dilakukan seseorang sebelum menerima barang yang dibelinya dari si penjual. e. Riba Nasa’I, yaitu melebihkan pembayaran barang yang diperjual-belikan atau diutangkan karena dilambatkan waktu pembayarannya.8. Nikah secara etimologi, berarti mengumpulkan (al-dhamm) dan menggauli (al-Wath’)9. Secara terminology, terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama. Syafi’iyah berpendapat bahwa nikah adalah akad yang mengandung ketentuan hukum diperbolehkannya watha’ (senggama) dengan lafadz nikah atau tajwiz atau yang semakna dengannya10. Mengenai hukum asal nikah, para ulama berbeda pendapat. dalam pandangan syafi’I, penikahan itu mubah atau dibolehkan11. Meminang (al-Khitbah) artinya permintaan seorang laki-laki kepada seorang perempuan untuk menikahinya, baik itu dilakukan oleh laki-laki secara langsung maupun oleh pihak yang dipercayanya sesuai dengan ketentuan agama.12. Dalam hal ini ada beberapa syarat wanita yang boleh dipinang. Pertama, pada waktu dipinang tidak ada halangan hukum yang melarang melakukan pernikahan. Kedua, belum dipinan oleh orang lain secara sah. 13. kewajiban suami terhadap istria. Membayar maharb. Memberi nafkahc. Menggauli dengan cara yang baikd. Berlaku adile. Menghukum apabila istri berbuat nusyuzf. Membimbing istrig. Tidak membuka aib istrih. Memerintahkan istri menjalankan syariat islami. Membawa istri pada ketaatan apabila berbuat durhaka14. kewajiban istri terhadap suami1. taat kepada suami2. menjaga kehormatan dan kemuliaan dirinya dan suaminya3. berada didalam rumah4. mendidik anak-anak5. menyenangkan hati suami6. memenuhi hajat biologis suaminya7. tidak memasukkan orang lain kedalam rumah tanpa seidzin suami15. kewajiban bersama suami istri1. saling menumbuhkan suasana mawaddah wa rahmah2. saling mempercayai dan memahami sifat masing-masing3. selalu menghiasi dengan pergaulan yang harmonis4. saling menasehati dalam kebaikan5. bersabarDaftar PustakaAbyan, Amir. 1996. Fiqih untuk Madrasah Tsanawiyah kelas 3. Thoha Putra. Semarang.Al-ghozali, Al-Imam. Tanpa tahun. Ihya’ Ulumu Ad-Din. Thoha Putra. Semarang.Departemen Agama RI. 2006. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Karya Agung. Surabaya.Karim, Moh. Sholih Zuhri. 2005. Fikih XI MA semester 1 dan 2. Depag Jatim.Purnomo, Agus, Lc. 08 Juni 2008. Hak dan Kewajiban Suami Istri. www.muslim delft.com.Sabiq, Sayyid. Tanpa tahun. Fiqh as Sunnah. Dar Ats Tsaqofah IslamiyahSalam, Badru, Lc. 10 Desember 2006. Akhlaq dan Pernikahan. www.lifeuniversity-kampuskehidupan.com.Supiana. M. Karman, 2004. Materi Pendidikan Agama Islam. Rosda. BandungThomafi, M. Luthfi. Senin, 21 Juli 2008. Hak suami istri.. www.Pesantren Visual.Com.29 Juni 2007. kewajiban dan hak suami istri dalam pernikahan. www.Achmadf.multiply.com

0 komentar:

Poskan Komentar

  • Blockquote

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua...

  • Duis non justo nec auge

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua...

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua...