Pages

Subscribe:

Hot News

News image

Pato Jadi Tumpuan

MILAN – Perjalanan AC Milan di ajang Liga Champions musim 2011/12 akan dimulai Selasa (13/9) atau Rabu dini ... Selengkapnya

News image

Ujian Berat!

BARCELONA – Barcelona berambisi mempertahankan gelar Liga Champions yang mereka raih... Selengkapnya

News image

Persipura Ubah Taktik

PAPUA – Jacksen F. Tiago, pelatih Persipura Jayapura, mengaku harus mengubah sedikit strategi bermain menyusul absennya Gerald Pangkali dan Johannes ... Selengkapnya

News image

Pemain Mulai Melunak

JAKARTA – Ketegangan antara beberapa pemain dan pelatih timnas Wilhelmus “Wim” Rijsbergen diharapkan mereda. Beberapa pemain yang sebelumnya mengancam mogok ... Selengkapnya

Jumat, 11 Maret 2011

Pembelajaran Berbasis Masalah


1.         Pengertian Pembelajaran  Berbasis Masalah

Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu kegiatan pembelajaran yang berpusat pada masalah. Istilah berpusat berarti menjadi tema, unit, atau

isi sebagai fokus utama belajar9. Menurut Resnick dan Gleser dalam Gredler (1991), masalah dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang melakukan tugasnya yang tidak diketahui sebelumnya. Masalah pada umumnya timbul karena adanya kebutuhan untuk memenuhi atau mendekatkan kesenjangan antara kondisi nyata degan kondisi yang seharusnya.

Pemecahan masalah adalah suatu proses menemukan suatu respon yang tepat terhadap suatu situasi yang benar-benar unik dan baru bagi pemecah masalah. Dalam pengembangan pembelajaran ini, pemecahan masalah didefinisikan sebagai proses atau upaya untuk mendapatkan suatu penyelesaian tugas atau situasi yang benar-benar sebagai masalah dengan
meggunakan aturan-aturan  yang sudah diketahui10.


9  Mustaji, Op.cit,   h. 35

10  Ibid.,   h. 72-73




12

13






2.      Ciri dan Karakteristik Pembelajaran  Berbasis Masalah

Pembelajaran berbasis masalah dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Terdapat tiga ciri utama dari pembelajaran berbasis masalah: Pertama, pembelajaran berbasis masalah merupakan aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasinya pembelajaran berbasis masalah adalah sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa. Pembelajaran berbasis masalah tidak mengharapkan siswa hanya sekedar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui pembelajaran berbasis masalah siswa aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akirnya menyimpulkan. Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesakan masalah. pembelajaran berbasis masalah menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Ketiga, pemecahan masalah dilaukan dengan mengunaan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan mengunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris. Sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu, sedangkan empiris artinya proses penyelesaian masalah didasarkan
pada data dan fakta  yang jelas11.




11     Wina Sanjaya, Op.cit,   h. 212-213

14






Ada beberapa karakteristik pembelajaran berbasis masalah, Arends (1997) mengidentifikasikan 5 karakteristik sebagai berikut :

a.     Pengajuan pertanyaan  atau masalah

Bukannya mengorganisasikan di sekitar prinsip–prinsip atau keterampilan akademik tertentu, pembelajaran berbasis masalah mengorganisasikan pembelajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang kedua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa. Mereka mngajukan situasi kehidupan nyata autentik, menghindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi itu.

b.    Keterkaitan dengan disiplin ilmu lain

Meskipun pembelajaran berbasis masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA, matematika, ilmu–ilmu sosial), masalah yang akan diselidiki telah terpilih benar–benar nyata agar dalam pemecahannya siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran. Sebagai contoh, masalah polusi yang dimunculkan dalam masalah pelajaran di teluk chesapeake mencakup berbagai subyek akademik dan terapan mata pelajaran seperti biologi, ekonomi, sosiologi, pariwisata, dan pemerintahan.

c.     Menyelidiki masalah autentik

Pembelajaran berbasis masalah mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata.

15







Mereka
harus
menganalisis
dan
mendefinisikan
masalah,

mengembangkan  hipotesis,  dan  membuat  ramalan,  mengumpulkan  dan

menganalisa     informasi,     melakukan     eksperimen     (jika     diperlukan),

membuat  inferensi,  dan  merumuskan  kesimpulan.  Sudah  barang  tentu,

metode  penyelidikan  yang  digunakan,  bergantung  kepada  masalah  yang

sedang dipelajari.








d.
Memamerkan hasil kerja









Pembelajaran      berbasis      masalah      menuntut      siswa      untuk

menghasilakan  produk  tertentu  dalam  bentuk  karya  nyata  atau  artefak  dan

peragaan  yang  menjelaskan  atau  mewakili  bentuk  penyelesaian  masalah

yang   mereka   temukan.   Produk   tersebut   dapat   berupa   transkrip   debat

seperti  pada  pelajaran  roots  and  wings”.  Produk  itu  dapat  juga  berupa

laporan,  model  fisik,  video  maupun  program  komputer.  Karya  nyata  dan

peragaan  seperti  yang akan  dijelaskan  kemudian,  direncanakan  oleh  siswa

untuk  mendemonstrasikan  kepada  teman–temannya  yang  lain  tentang  apa

yang   mereka   pelajari   dan   menyediakan   suatu   alternatif   segar   terhadap

laporan tradisional atau  makalah.






e.
Kolaborasi











Pembelajaran    berbasis    masalah    dicirikan    oleh    siswa    yang

bekerja  sama  satu  dengan  yang  lainnya,  paling  sering  secara  berpasangan

atau   dalam   kelompok   kecil.   Bekerja   sama   memberikan   motivasi   untuk

secara
berkelanjutan
terlibat
dalam
tugas–tugas
kompleks
dan

16






memperbanyak    peluang    untuk    berbagi    inkuiri    dan    dialog   dan    untuk

mengembangkan keterampilan sosial dan ketermapilan berfikir12. 3. Tujuan Pembelajaran Berbasis Masalah

Pembelajaran berbasis masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa seperti pada pembelajaran langsung dan ceramah, tetapi pembelajaran berbasis masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, mengembangkan kemampuan memecahan masalah, keterampilan intelektual,
dan menjadi siswa  yang mandiri.13

4.     Tahapan-Tahapan Pembelajaran  Berbasis Masalah

Banyak ahli yang menjelaskan bentuk penerapan pembelajaran berbasis masalah. John Dewey seorang ahli pendidikan berkebangsaan Amerika menjelaskan 6 langkah pembelajaran berbasis masalah yang kemudian dia namakan metode memecahan masalah (problem solving), yaitu:

a.    Merumuskan masalah, yaitu langkah siswa menentukan masalah yang akan dipecahkan.

b.   Menganalisis masalah, yaitu langkah siswa meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang.




12    Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), h. 69-70

13 H. Muslimin Ibrahim,  Op.cit,  h. 7

17






c. Merumuskan hipotesis, yaitu langkah siswa merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Pada tahap ini siswa diharapkan siswa bisa menentukan sebab-akibat dari masalah yang ingin diselesaikan sehingga dapat menentukan berbagai kemungkinan untuk menyelesaikan masalah.

d.    Mengumpulkan data, yaitu langkah siswa mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah. Pada tahap ini siswa didorong untuk mengumpulkan data yang relevan kemudian memetakan dan menyajikan dalam berbagai tampilan sehingga mudah dipahami.

e.    Pengujian hipotesis, yaitu langkah siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan. Pada tahap ini siswa diharapkan bisa meneliti lebih dalam data-data yang telah diperoleh untuk melihat hubungan antara data-data tersebut dengan masalah yang akan dikaji.

f.     Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah, yaitu langkah siswa menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan. Pada tahap ini siswa

diharapkan dapat memilih alternatif penyelesaian yang sesuai, kemudian memperhitungkan kemungkinan dan akibat yang akan terjadi sehubungan dengan alternatif yang dipilihnya.

Dafid Johnson & Johnson mengemukakan ada lima langkah pembelajaran berbasis masalah melalui kegiatan kelompok yaitu:

18






a.    Mendefinisikan masalah atau merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang mengandung isu konflik, hingga siswa menjadi jelas masalah apa yang akan dikaji. Dalam kegiatan ini guru bisa meminta pendapat dan penjelasan siswa tentang isu-isu hangat yang menarik untuk dipecahkan.

b.   Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya masalah, serta menganalisis berbagai faktor yang dapat mendukung dan dalam penyelesaian masalah. Kegiatan ini bisa dilakukan dalam diskusi kelompok kecil, hingga pada akirnya siswa dapat mengurutkan tindakan-tindakan prioritas yang dapat dilakukan sesuai dengan jenis penghambat yang diperkirakan.

c.    Merumuskan alternatif strategi, yaitu menguji setiap tindakan yang telah dirumuskan melalui diskusi kelas. Pada taapan ini setiap siswa didorong untuk berpikir mengemukakan pendapat dan argumentasi tentang kemungkinan setiap tindakan yang dapat dilakukan.

d.   Menentukan dan menerapkan srategi pilihan, yaitu pengambilan keputusan tentang strategi mana yang dapat dilakukan.

e.    Melakukan evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil. Evaluasi proses adalah evaluasi terhadap seluruh kegiatan pelaksanaan kegiatan, sedangkan evaluasi hasil adalah evaluasi terhadap akibat dari penerapan strategi yang diterapkan14.


14 Wina Sanjaya,Op.cit,  h. 215-218

19






5.     Pengelolaan Pembelajaran Berbasis Masalah

Menurut   Arends   (1997   :   161),   pengelolaan   pembelajaran   berbasis

terdapat 5 langkah utama. Berikut kelima langkah tersebut15. a. Mengorientasikan siswa pada masalah

Siswa perlu memahami bahwa tujuan pembelajaran berbasis masalah adalah bukan untuk memperoleh informasi baru dalam jumlah besar, tetapi untuk melakukan penyelidikan terhadap masalah-masalah penting dan menjadi siswa yang mandiri. Cara yang baik dalam menyajikan masalah untuk suatu materi pelajaran dalam pembelajaran berbasis masalah ini adalah dengan menggunakan kejadian yang mencengangkan dan menimbukan misteri sihingga membangkitkan minat dan keinginan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.

b.      Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Pada model pembelajaran berbasis masalah dibutuhkan pengembangan keterampilan kerjasama di antara siswa dan saling membantu untuk menyelidiki masalah secara bersama. Berkenaan dengan hal tersebut siswa memerlukan bantuan guru untuk merencanakan penyelidikan dan tugas–tugas pelaporan. Pengorganisian siswa kedalam kelompok belajar pada pembelajaran berbasis masalah bisa menggunakan metode kooperatif learning.


15  Mustaji, Op.cit,.  h.76

20






c.         Mamandu menyelidiki secara mandiri atau kelompok

1)     Guru membantu siswa dalam pengumpulan informasi dari berbagai sumber, siswa diberi pertanyaan yang membuat mereka berfikir tentang suatu masalah dan jenis informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut. Siswa diajarkan untuk menjadi penyelidik yang aktif dan dapat menggunakan metode yang sesuai untuk masalah yang dihadapinya, siswa juga perlu diajarkan apa dan bagaimana etika penyelidikan yang benar.

2)     Guru mendorong pertukaran ide dan gagasan secara bebas. Penerimaan sepenuhnya gagasan–gagasan tersebut merupakan hal yang sangat penting pada tahap penyelidikan dalam rangka pembelajaran berbasis masalah. Pada tahap ini guru memberikan bantuan yang dibutuhkan siswa tanpa mengganggu aktifitas siswa.

3)     Puncak proyek–proyek pembelajaran berbasis masalah adalah penciptaan dan peragaan hasil kerja16.

d.        Mengembangkan dan menyajikan hasil kerja

Hasil-hasil yang telah diperoleh harus dipresentasikan sesuai pemahaman siswa. Siswa secara mandiri atau kelompok memberikan tanggapan atas hasil kerja temannya. Dalam hal ini guru mengarahkan,





16  Trianto, Op.cit,  h.73-75

21






memberi   tanggapan   atas   pendapat-pendapat   yang   yang   diberikan   oleh

siswa17.

e.      Menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan  masalah

Tugas guru pada tahap akhir pembelajaran berbasis pemecahan masalah adalah membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri, dan keterampilan penyelidikan yang mereka
gunakan18.

Berikut adalah sintaks pembelajaran berbasis masalah19

Tabel  2.1

SINTAKS  PEMBELAJARAN  BERBASIS  MASALAH

Tahap


Tingkah  Laku  Guru





Tahap 1
Guru
menjelaskan
tujuan
pembelajaran,
Orientasi siswa
menjelaskan
logistik
yang
dibutuhkan,
pada masalah
memotivasi  siswa  untuk  terlibat  pada  aktivitas

pemecahan masalah  yang dipilihnya.


Tahap 2
Guru      membatu      siswa     mendefinisikan      dan
Mengorganisasi
mengorganisasi  tugas  belajar  yang  berhubungan
siswa untuk belajar
dengan masalah tersebut.









17  Mustaji, Op.cit,  h. 77

18  Trianto, Op.cit,  h.75

19 Suryanti, et al., Model-Model Pembelajaran Inovatif, (Surabaya: Universitas Negeri Surabaya, 2008), h.21-22

22






Tahap 3
Guru   mendorong   siswa   untuk   mengumpulkan
Mamandu
informasi
yang
sesuai,
melaksanakan
menyelidiki secara
eksperimen,  untuk  mendapatkan  penjelasan  dan
mandiri atau
pemecahan masalah.


kelompok






Tahap 4
Guru    membantu    siswa    dalam    merencanakan
Mengembangkan
dan    menyiapkan    karya    yang    sesuai    seperti
dan menyajikan
laporan   dan   membantu   mereka   untuk   berbagi
hasil kerja
tugas dengan temannya.



Tahap 5
Guru      membantu      siswa      untuk      melakukan
Menganalisis dan
refleksi    atau    evaluasi    terhadap    penyelidikan
mengevaluasi hasil
mereka       dan       proses-proses       yang       mereka
pemecahan masalah
gunakan.










6.     Kelebihan dan  Kekurangan Pembelajaran Berbasis Masalah

Kelebihan pembelajaran  berbasis masalah  antara lain:

a.      Siswa lebih memahami konsep yang diajarkan sebab mereka sendiri yang menemukan konsep tersebut.

b.     Melibatkan secara aktif memecahkan masalah dan menuntut ketrampilan berpikir siswa yang lebih tinggi.

23






c.      Pengetahuan tertanam berdasakan skema yang dimiliki siswa sehingga pembelajaran lebih bermakna.

d.     Siswa dapat merasakan manfaat pembelajaran sebab masalah-masalah yang diselesaiakn berkaitan dengan kehidupan nyata.

e.      Proses pembelajaran melalui pembelajaran berbasis masalah dapat membiasakan para siswa untuk menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil. Apabila menghadapi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari siswa sudah mempunyai kemampuan untuk menyelesaikannya.

f.       Dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan

pengetahuan baru20.

Kelemahan pembelajaran  berbasis masalah  antara  lain:

a.      Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitanya sesuai dengan tingkat berpikir siswa, serta pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa sangat memerlukan ketrampilan dan kemampuan guru.

b.     Proses belajar dengan pembelajaran berbasis masalah membutuhkan waktu yang cukup lama.







20  Wina Sanjaya, Op.cit, h.218-219

24






c. Mengubah kebiasaan siswa dari belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dari guru menjadi belajar dengan banyak berpikir
memecahkan masalah merupakan kesulitan tersendiri bagi siswa21.

B.    Teori  Yang  Melandasi  Pembelajaran  Berbasis  Masalah

Pembelajaran berbasis masalah mengambil psikologi kognitif sebagai dukungan teoritisnya. Fokusnya bukan apa yang sedang dikerjakan siswa (perilaku siswa) tetapi pada apa yang mereka pikirkan (kognisi mereka). Dalam kegiatan pembelajaran ini, guru lebih berperan sebagai pembimbing dan fasilitator sehingga siswa dapat belajar untuk berpikir dan menyelesaikan
masalahnya sendiri.22

Melatih siswa berpikir, memecahkan masalah, dan menjadi pebelajar yang mandiri bukan hal baru dalam pendidikan. Berikut ini adalah beberapa aliran pemikiran abad ke duapuluh yang menjadi landasan pemikiran pembelajaran berbasis masalah.

1.       Dewey dan Kelas Berorientasi pada Masalah Seperti halnya pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis masalah juga menemukan akar intelektualnya dalam karya John Dewey. Dalam Democracy and Education (1916), Dewey mendeskripsikan suatu pandangan tentang pendidikan. Menurut pandangan Dewey, sekolah seharusnya mencerminkan masyarakat

21  Syaiful Bahri Djamarah, et  l.,  Strategi  Belajar  Mengajar,  (Jakarta: P.T. Rineka  Cipta, 2006), h. 93

22  Ricard I. Arends, Learning To Teach “Belajar Untuk Mengajar”, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), edisi 7, h. 45-46

25






yang lebih besar dan kelas seharusnya menjadi laboratorium untuk penyelidikan kehidupan nyata dan pemecahan masalah. Ilmu mendidik Dewey mendorong guru untuk melibatkan siswa dalam proyek-proyek berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki tentang masalah-masalah inteletual dan sosial. Dewey dan sejawatnya seperti Kilpatrick (1918), menegaskan bahwa pembelajaran di sekolah seharusnya lebih bermakna dan tidak terlalu abstrak. Pembelajaran bermakna yang terbaik dapat diwujudkan dengan meminta siswa berada dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengerjakan proyek-proyek pilihan yang sesuai dengan minat mereka
sendiri.23

2.     Piaget, Vygotsky, dan Konstruktivisme

Dewey memberikan dasar filosofi untuk pembelajaran berbasis masalah, tetapi psikologilah yang yang banyak memberikan dukungan teoritisnya. Para psikolog Eropa seperti Jean Pieget dan Lev Vygotsky, mempunyai peran instrumental dalam mengembangkan konsep Konstruktivisme yang menjadi sandaran pembelajaran berbasis masalah kontemporer.

Jean Pieget, seorang psikolog Swiss menghabiskan waktu lebih dari limapuluh tahun untuk mempelajari bagaimana anak-anak berpikir dan




23 Mohamad Nur, Model Pembelajaran Berdasakan Masalah, (Surabaya : Pusat Sains dan Matematika Sekolah Departemen Pendidikan Universitas Negeri Surabaya, 2008), h. 18-19

26






proses-proses yang terkait dengan perkembangan intelektual mereka. Menurut Pieget, anak balita memiliki sifat bawaan ingin tau dan terus berusaha memahami dunia disekitarnya. Keingintahuan ini menurut Pieget memotivasi mereka untuk mengkonstruksikan secara aktif gambaran-gambaran dibenak mereka tentang lingkungan yang mereka alami. Ketika umur mereka semakin bertambah dan semakin banyak mendapatkan kemampuan bahasa dan ingatan, gambaran mental mereka tentang dunia menjadi lebih rumit dan abstrak. Akan tetapi, diseluruh tahapan perkembangannya, kebutuhan anak untuk memahami lingkungan memotivasi mereka untuk menyelidiki dan mengkonstruksikan teori-teori yang menjelaskanya.

Pandangan konstruktivistik-kognitif yang menjadi landasan pembelajaran berbasis masalah banyak didasarkan pada pendapat Piaget (1954,1963), pandangan ini mengemukakan bahwa siswa dengan umur berapapun terlibat secara aktif dalam proses mendapatkan informasi dan mengkonstruksikan pengetahuanya sendiri. Pengetahuan tidak statis, tapi secara terus menerus tumbuh dan berubah pada saat siswa memperoleh pengalaman-pengalaman baru yang memaksa mereka mengkonstruksikan dan memodifikasi pengetahuan awal mereka. Menurut Pieget, pedagogi yang baik itu: harus melibatkan penyodoran berbagai situasi dimana anak dapat bereksperimen, dalam arti yang paling luas- mengujicobakan berbagai hal untuk melihat apa yang terjadi, memanipulasi tanda-tanda, memanipulasi simbol, mengajukan pertanyaan dan menemukan sendiri jawabannya,

27






mencocokkan apa yang ia temukan pada suatu waktu dengan apa yang ditemukannya pada waktu yang lain, membandingkan temuanya dengan

temuan  anak-anak  lainya24.

Lev Vygotsky (1896-1934) adalah seorang ahli psikologi dari Rusia yang karyanya kurang diketahui oleh para ahli psikologi dari Amerika dan Eropa karena adanya sensor komunis. Seperti halnya Peaget, Vygotsky percaya bahwa perkembangan intelektual terjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman baru, menantang dan saat mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang dimunculkan oleh pengalaman ini. Dalam upaya mendapatkan pemahaman, individu mengkaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan awal yang telah dimilikinya dan mengkonstruksikan pengetahuan baru. Keyakinan Vygotsky berbeda dengan keyakinan Piaget dalam beberapa hal penting. Piaget memusatkan pada tahap-tahap perkembangan intelektual yang dilalui oleh semua individu tanpa memandang konteks sosial dan budaya, sedangkan Vygotsky memberi tempat yang lebih penting pada aspek sosial pembelajaran. Vygotsky percaya bahwa interaksi sosial dengan orang lain memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya
perkembangan intelektual siswa25.





24  Ricard  I, Op.cit,  h. 46-47

25     H. Muslimin Ibrahim, Op.cit,  h. 18

28






Salah   satu   ide   kunci   yang   berasal   dari   Vygotsky   pada   aspek   sosial
pembelajaran    adalah    konsepnya    tentang    zone    of    proximal    development.
Menurut  Vygotsky,  siswa  memiliki  dua  tingkat  perkembangan  yang  berbeda
yaitu    tingkat    perkembangan    aktual    dan    tingkat    perkembangan    potensial.
Tingkat  perkembangan  aktual  adalah  menentukan  fungsi  intelektual  individu
saat    ini    dan    kemampuannya    untuk    mempelajari    sendiri    hal-hal    tertentu.
Individu  juga  memiliki  tingkat  perkembangan  potensial  yang  oleh  Vygotsky
didefinisikan    sebagai    tingkat    yang    dapat    difungsikan    atau    dicapai    oleh
indifidu   dengan   bantuan   orang   lain,   misalnya   guru,   orang   tua,   atau   teman
sebayanya
yang
lebih
maju.
Zona
yang
terletak
diantara
tingkat

perkembangan     potensial     siswa    disebutnya    sebagai     zone     of     proximal

development26.

3.   Bruner dan Dyscovery  Learning

Jerome Bruner adalah seorang ahli psikologi Harvad yang menjadi pelopor dalam era reformasi kurikulum di Amerika pada era 1950-an dan 1960-an. Bruner dan koleganya memberikan dukungan teoritis penting terhadap Dyscovery Learning, suatu model pembelajaran yang menekankan pentingnya membantu siswa memahami struktur atau ide kunci dari suatu disiplin ilmu, perlunya siswa aktif terlibat dalam proses pembelajaran, dan suatu keyakinan bahwa pembelajaran yang sebenarnya terjadi melalui


26  Ricard  I, Op.cit, h. 47

29






penemuan pribadi (personal dyscovery). Tujuan pendidikan tidak hanya untuk meningkatkan banyaknya pengetahuan siswa tetapi juga menciptakan berbagai kemungkinan untuk penciptaan dan penemuan siswa.

Pembelajaran berbasis masalah juga juga bergantung pada konsep lain dari Bruner, yaitu scaffolding. Brunner mendeskripsikan scaffolding sebagai suatu proses dimana seorang siswa dibantu menuntaskan masalah tertentu melampaui bantuan (scaffolding) dari seorang guru atau orang lain yang mempunyai kemampuan lebih. Konsep scaffolding Bruner mirip dengan
konsep   zone  of  proximal  development   Vygotsky27.

0 komentar:

Poskan Komentar

  • Blockquote

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua...

  • Duis non justo nec auge

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua...

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua...