Pages

Subscribe:

Hot News

News image

Pato Jadi Tumpuan

MILAN – Perjalanan AC Milan di ajang Liga Champions musim 2011/12 akan dimulai Selasa (13/9) atau Rabu dini ... Selengkapnya

News image

Ujian Berat!

BARCELONA – Barcelona berambisi mempertahankan gelar Liga Champions yang mereka raih... Selengkapnya

News image

Persipura Ubah Taktik

PAPUA – Jacksen F. Tiago, pelatih Persipura Jayapura, mengaku harus mengubah sedikit strategi bermain menyusul absennya Gerald Pangkali dan Johannes ... Selengkapnya

News image

Pemain Mulai Melunak

JAKARTA – Ketegangan antara beberapa pemain dan pelatih timnas Wilhelmus “Wim” Rijsbergen diharapkan mereda. Beberapa pemain yang sebelumnya mengancam mogok ... Selengkapnya

Sabtu, 02 April 2011

Metode Pembelajaran Jibril


1.      Metode Jibril
a.      Pengertian Metode Jibril
Metode secara etimologi, istilah ini berasal dari bahasa yunani ”metodos” kata ini berasal dari dua suku kata yaitu: ”metha” yang berarti melalui atau melewati dan ”hodos” yang berarti jalan atau cara. Metode berarti jalan yang di lalui untuk mencapai tujuan.[1] Dalam kamus bahasa indonesia ”metode” adalah cara yang teratur dan berfikir baik untuk mencapai maksud. Sehingga dapat di pahami bahwa metode berarti suatu cara yang harus dilalui untuk menyajikan bahan pelajaran agar mencapai tujuan pelajaran.[2]
Metode adalah strategi yang tidak bisa ditinggalkan dalam proses belajar mengajar. Setiap kali mengajar guru pasti menggunakan metode. Metode yang di gunakan itu pasti tidak sembarangan, melainkan sesuai dengan tujuan pembelajaran.[3]
Pada dasarnya, terminologi (istilah) metode Jibril yang digunakan sebagai nama dari metode pembelajaran Al-Qur’an yang diterapkan di Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) Singosari Malang,  adalah dilatarbelakangi perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengikuti bacaan Al-Qur’an yang telah dibacakan oleh malaikat Jibril, sebagai penyampai wahyu, Allah SWT berfirman:
فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ
Artinya: ”Apabila  telah selesai kami baca (Yakni Jibril membacanya) maka ikutilah bacaannya  itu”. (Q.S. Al-Qiyamah: 18)

Berdasarkan ayat diatas, maka intisari teknik dari Metode Jibril adalah taqlid-taqlid (menirukan), yaitu santri menirukan bacaan gurunya. Dengan demikian metode Jibril bersifat teacher-centris, dimana posisi guru sebagai sumber belajar atau pusat informasi dalam proses pembelajaran.
Selain itu praktek Malaikat Jibril dalam membacakan ayat kepada Nabi Muhammad SAW adalah dengan tartil (berdasarkan tajwid yang baik dan benar). Karena itu, metode Jibril juga diilhami oleh kewajiban membaca Al-Qur’an secara tartil, Allah SWT berfirman:
أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا
Artinya : “…Dan bacalah (olehmu) Al-Qur’an dengan tartil.(QS. Muzammil : 4)

Dan metode Jibril juga diilhami oleh  peristiwa turunnya wahyu secara bertahap yang memberikan kemudahan kepada para sahabat untuk menghafalnya dan memaknai makna-makna yang terkandung didalamnya.[4]
Adapun landasan yang dipakai selain di Al-Qur’an Surat Muzammil ayat  4 juga Hadis Riwayat  Ibnu Asakir
كان أبو سعيد الخدرى يعلمنا القرأن خمس أيات بالغداة وخمس ايات بالعشى ويخبر أن جبريل نزل بالقران خمس اايات خمس ايات  (رواه إبن عساكر)
Artinya: “Abu Said al-Khudri mengajarkan Al-Qur’an kepada kami, lima ayat di waktu pagi dan lima ayat di waktu petang. Dia memberitahukan bahwa jibril menurunkan Al-Qur’an lima ayat-ayat.”

Dan juga ada Hadis Riwayat Baihaqi
تعلموا القران خمس اايات خمس ايات فان جريل كان ينزل بالقران على النبى صلى الله عليه وسلم خمسا خمسا (رواه البيهقى)
Artinya: Pelajarilah Al-Qur’an lima ayat demi lima ayat, karena Jibril menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi SAW. Lima ayat demi lima ayat.”
Metode menghafal Al-Qur’an melalui cara diatas yakni dengan cara menghafal Al-Qur’an lima ayat demi lima ayat juga diterapkan di Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah Komplek As-Syifa’ Mojogeneng Jatirejo Mojokerto yang mana komplek tersebut tempat santri yang ingin menghafal Al-Qur’an. Adapun Pengasuh-nya adalah KH. Moh. Fathoni Dimyati, Lc.  lulusan S1 dari Negara Syiria, beliau juga pernah Juara II Hifdzul Qur’an Tingkat Internasional Di Makkah sekitar tahun 1983 (Wawancara dengan beliau pada tanggal 13 Agustus 2008). Mengenai metode mengahafal Al-Qur’an yang diterapkan di tempat mengasuh beliau benar-benar telah teruji, hal ini dibuktikan oleh santri-santrinya yang sering juara di perlombaan MTQ Tingkat Kabupaten Mojokerto, Tingkat Jawa Timur dan juga ada yang sampai MTQ Tingkat Nasional. (Wawancara dengan Pengurus Komplek As-Syifa’   pada tanggal 14 Agustus 2008).
Di dalam metode Jibril, tujuan intraksional umum pembelajaran Al-Qur’an adalah santri membaca Al-Qur’an dengan tartil sesuai dengan perintah Allah SWT. Indikasinya santri mampu menguasai ilmu-ilmu tajwid baik secara praktis maupun teoritis pada saat ia membaca Al-Qur’an dengan demikian, metode Jibril berupaya mencetak generasi Qur’ani yang selalu mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.
Melalui metode Jibril inilah nantinya menghafal Al-Qur'an bisa berjalan secara efektif, sehingga terwujudlah hasil yang diinginkan yaitu menjadi insan Qur'ani, bisa menghafalnya dengan baik dan benar dan sekaligus mengamalkan ajaran Al-Qur'an dengan baik dalam aplikasi kehidupannya.
b.      Konsep Metode Jibril
Intisari teknik dari metode Jibril adalah taqlid-taqlid (menirukan), yaitu murid menirukan bacaan gurunya. Dengan demikian metode Jibril bersifat teacher-centris, dimana posisi guru sebagai sumber belajar atau pusat informasi dalam proses pembelajaran.
Metode ini sudah dipakai pada zaman Rasulullah dan para sahabat. Setiap kali Rasulullah SAW menerima wahyu yang berupa ayat-ayat Al-Qur’an, beliau membacanya di depan para sahabat, kemudian para sahabat menghafalkan ayat-ayat tersebut sampai hafal di luar kepala. metode yang digunakan Nabi mengajar para sahabat tersebut, dikenal dengan metode belajar kuttab. Di samping menyuruh menghafalkan, Nabi menyuruh kutab (penulis wahyu) untuk menuliskan ayat-ayat yang baru diterimanya itu.[5] Proses belajar seperti ini berjalan sampai pada akhir masa pemerintahan Bani Umayyah.[6]
Sedangkan tujuan intraksional khusus pembelajaran Al-Qur’an dijabarkan sebagai berikut:
Ø  Santri mampu mengenal huruf, menghafalkan suara huruf, membaca kata dan kalimat berbahasa arab, membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan baik dan benar.
Ø  Santri mampu mempraktekkan membaca ayat-ayat Al-Qur’an (pendek maupun panjang) dengan bacaan bertajwid dan artikulasi yang shahih (benar) dan jahr (bersuara keras).
Ø  Santri mengetahui dan memahami teori-teori dalam ilmu tajwid walaupun secara global, singkat dan sederhana teerutama hukum-hukum dasar ilmu tajwid seperti hukum lam sukun, nun sukun, dan tanwin, mad dan lainnya.
Ø  Santri mampu menguasai sifat-sifat huruf hijaiyah baik lazim maupun yang ’aridh.
Ø  Santri mampu memahami semua materi ajar dengan baik dan benar.
Ø  Santri mampu menggunakan media atau alat bantu secara baik dan benar.
Selain penjabaran diatas, tujuan intruksional adalah semua yang dikembangkan sendiri oleh guru yang menerapkan metode Jibril sesuai dengan kebutuhan, situasi, kondisi dan tujuan pembelajaran di lembaga pendidikan.
Menurut K.H. Muhammad Bashori Alwi, sebagai pencetus metode Jibril menegaskan bahwa metode ini bersifat talqin-taqlid, yaitu murid menirukan bacaan gurunya. Dengan demikian, guru dituntut untuk profesional dan memiliki kredibilitas yang mumpuni di bidangnya. Dan metode Jibril menurut K.H.M. Bashori Alwi diadopsi dari Imam Al-Jazari dan dikombinasi dengan cara mengajar Imam Abdurrahman As-Sulami, seorang yang ahli qiraat pada awal era awal kebangkitan Islam. Kombinasi tersebut diterapkan dalam teknik metode Jibril, yang disebut tashih. Teknik ini sangat bermanfaat bagi pengkaderan guru yang profesional.
Teknik dasar Metode Jibril bermula dengan membaca satu ayat atau waqaf, lalu diturunkan oleh guru yang mengaji. guru membaca satu-dua  kali lagi yang masing-masing masing-masing ditirukan oleh orang-orang yang mengaji. Kemudian guru membaca ayat atau lanjutan ayat berikutnya dan ditirukan kembali oleh semua yang hadir. Begitulah seterusnya, sehingga mereka dapat menirukan bacaan guru dengan pas. (Al-Kisah:50).[7]
c.       Karateristik Metode Jibril
Di dalam metode Jibril terdapat dua tahap, yaitu tahqiq dan tartil.
1)      Tahap tahqiq adalah pembelajaran Al-Qur’an dengan pelan dan mendasar. Tahap ini dimulai dengan pengenalan huruf dan suara, hingga kata dan kalimat. Tahap ini memperdalam artikulasi (pengucapan) terhadap sebuah huruf dengan tepat dan benar sesuai dengan makhraj dan sifat-sifat huruf.
2)      Tahap tartil adalah pembelajaran membaca Al-Qur’an dengan durasi sedang dan bahkan cepat sesuai dengan irama lagu. Tahap ini dimulai dengan pengenalan sebuah ayat atau beberapa ayat yang dibacakan guru, lalu ditirukan oleh para santri secara berulang-ulang. Disamping pendalaman artikulasi (pengucapan), dalam tahap tartil juga diperkenalkan praktek hukum-hukum ilmu tajwid seperti: bacaan mad, waqaf, dan ibtida’, hukum nun mati dan tanwin, hukum mim mati, dan sebagainya.
3)      Tahap menghafal Al-Qur’an dengan cara lima ayat-lima ayat dihafal oleh santri dengan cara membaca Al-Qur’an berulang-ulang sesuai dengan kemampuan masing-masing, kemudian setelah lima ayat hafal diluar kepala baru memulai lagi menghafal Al-Qur’an ayat berikutnya sampai jumlahnya lima ayat dan seterusnya.
4)      Menyetorkan hafalannya ke Ustad atau Pengasuh, Adapun Jadwal setorannya di Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah Komplek As-Syifa’ Mojogeneng Jatirejo Mojokerto setiap hari dua kali yakni Ba’da Shubuh dan Ba’da Isya’.



[1] Muhammad Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara1996), hlm: 61
[2] Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka1995), hal: 52
[3] Saipul Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: PT.Rineka Cipta, 2002), hlm: 178
[4] Ahsin W. Al-Hafizh, Bimbingan Praktis Menghafal Al-Qur’an (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hlm. 6-7.
[5]  Amanah, Pengantar Ilmu Al-Qur’an &Tafsir  (Semarang: As-Syifa,1991), hlm. 104
[6]  Ibid.,
[7] Taufiqurahman, Metode Jibril, (Malang : Malang IKAPIQ,2005) hal 1-23                                                                                                                          

0 komentar:

Poskan Komentar

  • Blockquote

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua...

  • Duis non justo nec auge

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua...

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua...