Index Labels

Metode Proyek

Posted by Akmal Debayor

1.      Pengertian Metode Proyek
Metode ini berangkat dari pemikiran Jhon Dewey  tentang metode pemecahan masalah dan dikembangkan oleh Kilpatrick dalam bentuk metode proyek. Istilah proyek telah dipakai dalam latihan kerja tangan pada awal 1920, dan menunjuk pada setiap masalah praksis yang melibatkan penggunaan fisik untuk menghasilkan suatu produk. Pada waktu metode proyek digunakan dalam bidang pertanian dan kerajinan keluarga, metode proyek Kilpatrisk tidak hanya sekedar sebuah teknik canggih, tetapi merupakan sebuah filsafat pendidikan yang diterjemahkan dalam sebuah metode.
Metode proyek sebagian berakar pada reaksi Kilpatrick terhadap tidak dipergunakannya metode pemecahan masalah oleh banyak guru, yang lebih ditekankan dalam pembelajaran dengan menggunakan cara-cara yang konvensional.
Adapun metode pemecahan masalah dari Jhon Dewey, yang mengartikan pendidikan adalah hidup, pertumbuhan, suatu rekonstruksi terus-menerus dari pengalaman yang terakumulasi, dan suatu proses sosial. Langkah-langkahnya terdiri atas:
a.       Penyadaran masalah
b.      Perumusan masalah,
c.       Pengumpulan data,
d.      Penyusunan hipotesis, dan
e.       Pembuktian.[1]
Untuk lebih memantapkan pengetahuan yang telah diajarkan, pengetahuan tersebut hendanknya diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan kata lain, siswa diminta untuk menghubungkan sebanyak mungkin pengetahuan yang diperolehnya. Metode yang memungkinkan terlaksananya metode hal-hal itu adalah metode proyek.
 Adapun yang dimaksud dengan metode proyek ialah salah satu cara pemberian pengalaman belajar dengan menghadapakan anak dengan persoalan sehari-hari yang harus dipecahkan secara berkelompok.[2] 
Menurut hasil penelitian terdapat hubungan  yang erat antara proses memperoleh pengalaman yang sebenarnya dengan pendidikan (Kolb, 1985:5).[3] Oleh karena itu, pendidikan bagi anak didik harus diintegrasikan dengan lingkungan kehidupan anak yang banyak menghadapkan anak dengan  pengalaman langsung. Lingkungan kehidupan sebagai pribadi dan terutama lingkungan kehidupan anak dalam kelompok, banyak memberikan pengalaman bagaimana cara melakukan sesuatu yang terdiri atas serangkaian tingkah laku yang dimaksud.
Metode proyek ini juga memungkinkan peserta didik memperluas wawasan pengetahuannya dalam bidang studi tertentu, memungkinkan minat peserta didik tersalurkan, peserta didik dilatih menelaah dan memandang suatu materi pelajaran dalam konteks yang lebih luas. Prinsip dalam metode proyek adalah membahas sesuatu tema ditinjau dari berbagai bidang studi sehingga terbentuk suatu kaitan yang serasi dan logis antara pokok bahasan sebagai bidang study.[4]
Prinsip dari metode proyek ialah membahas suatu tema ditinjau dari berbagai mata pelajaran sehingga terbentuk suatu kaitab yang serasi dan logis antara pokok bahasan mata pelajaran.[5]

2.      Tipe-tipe metode proyek
Metode proyek yang diusulkan Kilpatrick mencoba memadukan tiga unsur dalam satu kesatuan konsep. Ketiga unsur tersebut antara lain:
a.       Pasrtisipasi sosial siswa dalam situasi belajar,
b.      Penggunaan penuh prinsip-prinsip psikologi tentang belajar, dan
c.       Masuknya unsur etika dan rasa tanggung jawab.
Kilpatrick membagi metode proyek menjadi empat kelompok, yaitu:
a.       Tipe 1      : Proyek konstruksi atau kreatif, tujuannya untuk   mewujudkan sautu gagasan atau rencana bentuk lahiriah, seperti membangun perahu, mengarang cerita, menggelar permainan.
b.      Tipe 2        : Proyek apresiasi atau hiburan, tujuannya menikmati pengalaman estetis, seperti mendengarkan cerita, mendengarkan simponi, menikamti lukisan, dll.
c.       Tipe  3       : Proyek masalah, tujuannya memecahkan suatu kesulitan intelektual, seperti mengapa embun jatuh pada waktu-waktu tertentu?, mengapa new york mempunyai pertumbuhan lebih cepat dari pada Philadelpia?
d.      Tipe 4        : Proyek latihan dan belajar khusus, tujuannya memperoleh peningkatan keterampilan dan pengetahuan, seperti belajar menulis halus, memperbaiki peringkat.[6]

3.      Tahap- tahap pelaksanaan metode proyek
a.      Tahap perencanaan
Pada tahap ini guru membuat perencanaan seperti biasa yang dilakukannya perbedaannya hanyalah bahwa proses belajar mengajar dengan metode proses proyek, guru mencoba menaikkan pokok bahasan dari suatu mata pelajaran tertentu dengan pokok bahasan dari mata pelajaran lain. Secara berurutan tahap perencanaan itu meliputi langkah- langkah sebagai berikut:
1)      Mempelajari pokok bahasan dalam GBPP dari mata pelajaran yang menjadi tema dari proyek tersebut.
2)      Membuat diagram kaitan antara tema dengan pokok bahasan dari mata pelajaran lain (untuk itu perlu dipelajari GBPP mata pelajaran lain).
3)      Merumuskan tujuan pelajaran dengan menggunakan metode proyek tersebut.
4)      Menentukan materi pelajaran dari pokok bahasan masing- masing mata pelajaran yang dikaitkan dengan tema proyek.
5)      Menentukan langkah- langkah dalam kegiatan belajar- mengajar, termasuk metode dan pendekatannya.
6)      Merencanakan organisasi kelas sesuai dengan kegiatan belajar- mengajar (misalnya bekerja dalam kelompok).
7)      Bila dalam langkah kegiatan itu ada kunjungan kesitus sejarah atau musium, maka diadakan perencanaan untuk hal tersebut (misalnya mengadakan peninjauan lebih dulu kesitus sejarah atau musium).
8)      Menyiapkan format- format pengamatan untuk siswa.
9)      Merencanakan kegiatan- kegiatan tidak lanjut.
10)  Menyiapkan penilaian kegiatan belajar- mengajar.[7]
b.      Tahap pelaksanaan.
Kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam tahap pelaksanaan antara lain:
1)      Guru mengemukakan tema pokok.
2)      Guru mengajak peserta didik menelaah kemungkinan untuk mengkaitkan tema dengan berbagai bidang studi.
3)      Guru berperan sebagai pembimbing dan pengatur jalannya diskusi.
4)      Sesudah pengkaitan tema dengan bidang studi yang lain terbentuk, guru membagi kelas dalam beberapa kelompok sebanyak bidang studi yang ada (terkait).
5)      Setiap kelompok merencanakan bagaimana melakukan kegiatan yang berhubungan dengan materi yang telah dikaitkan dengan tema.
6)      Guru memberi tahukan hal- hal yang penting apa yang perlu diamati oleh peserta didik.
7)      Data informasi yang terkumpul di diskusikan, di olah dan di tulis serta siap untuk dilaporkan.
8)      Sesudah siap untuk melaporkan, maka guru atau peserta didik memimpin pelaporan. Siswa yang lain memberi komentar atau saran dan dicatat oleh anggota kelompok yang sedang melaporkan. Guru kadang- kadang memberi saran apabila diskusi kurang lancar.
9)      Berdasarkan komentar atau saran maka kelompok mendiskusikan dan bersikap sepakat untuk menambah atau mengurangi dan menyempurnakan laporan.
10)  Suatu hal yang penting, bahwa guru harus membantu para peserta didik dalam memahimi hubungan tema dengan bidang studi yang lain.[8]
c.       Tahap tindak lanjut
Untuk memantapkan hasil kegiatan belajar yang baik untuk diterapkan adalah pameran. Pameran dapat berkisar antara pameran sederhana sampai pameran yang lebih luas. Materi pameran dapat menjadi sumber bagi pelajaran lainnya.[9]
d.      Tahap penilaian
Kegiatan pada tahap terakhir pelaksanaan metode proyek adalah penilaian terhadap semua kegiatan yang telah dilakukan. Tujuan penilaian adalah dalam rangka untuk memperbaiki proses belajar- mengajar dengan metode proyek ini. Selain itu penilaian dimaksudkan untuk mengetahui apa yang telah dipelajari peserta didik dan apakah sikap- sikap dan keterampilan tertentuj telah dimiliki oleh peserta didik.
Cara penilaian dapat dilakukan:
1)      Secara verbal, misalnya tanya jawab dan diskusi.
2)      Secara tertulis, misalnya berupa laporan, karangan, puisi, dan tes.
3)      Penilaian hasil karya wisata, seperti gambar, bagan, model, alat sederhana, diorama, dan market. Penilaian hasil karya wisata dapat ditujukan kepada individu atau kelompok, misalnya pada waktu hasil karya tiap siswa dipajang di kelas atau pada waktu pameran tiap stand dinilai (nilai kelompok).[10] 
Ada beberapa hal penting yang perlu dicatat dalam menerapkan dan melaksanakan metode proyek, diantaranya:
1)      Pada waktu merencanakan pelajaran dengan metode proyek tidak usah diikutsertakan bidang studi yang dirasa kurang logis kaitannya dengan tema.
2)      Judul tema tidak perlu sesuai dengan pokok bahasan dalam GBPP bidang studi darimana tema itu diambil.
3)      Materi agar tetap dalam jangkauan kemampuan peserta didik dan menarik perhatiannya.
4)      Penilaian hendaknya ditekankan pada fungsinya sebagai umpan balik kepada peserta didik maupun guru.[11]
Dengan memperhatikan teknik dan metode yang dapat diterapkan dalam proses belajar-mengajar di atas yang merupakan gambaran sebagian kecil dari keseluruhan metode mengajar diatas yang ada maka penyajian beberapa teknik dan metode mengajar di atas dapat dipilih yang sekiranya paling tepat untuk pengajaran yang menerapkan cara belajar siswa aktif.
Hal yang amat penting untuk diperhatikan oleh guru dalam memilih dan menetapkan metode maupun teknik mengajar adalah kenyataan bahwa metode dan teknik mengajar banyak jenisnya dan bermacam-macam bentuknya dengan masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahannya. Oleh karena itu, guru dituntut agar menggunakan teknik dan metode bervariasi dalam proses belajar-mengajar, sehingga masing-masing teknik dan metode tersebut dapat saling mengisi dan melengkapi dan kelemahan dan kekurangannya.

4.      Kelebihan dan Kekurangan Metode Proyek.
a.      Kelebihan Metode Proyek
Beberapa kelebihan metode proyek antara lain:
1)      dapat memperluas pemikiran anak didik yang berguna dalam menghadpi masalah kehidupan.
2)      dapat membina anak didik dengan kebiasaan menerapkan pengetahuan sikap, dan keterampilan dalam kehidupan sehari-hari secara terpadu.
3)      metode ini sesuai dengan prinsip-prinsip didaktik modern yang dalam pengajaran perlu diperhatikan:
a)      kemampuan individual siswa danm kerja sama dalam keompok.
b)      Bahan pelajaran tak terlepas dari kehidupan riil sehari-hari yang penuh dengan masalah.
c)      Pengembangan aktivitas, kreativitas dan pengalaman siswa banyak dilakukan.
d)     Agar teori dan praktek, sekolah dan kehidupan masyrakat menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.
b.      Kekurangan Metode Proyek.
Metode ini mengandung kekurangan, antara lain:
1)      kurikulum yang berlaku di Indonesia saat ini, baik secara vertical maupun horizontal, belum menunjang pelaksanaan metode ini.
2)      pemilihan topic unit yang tepat sesuai dengan kebutuhan siswa, cukup fasilitas dan sumber-sumber belajar yang diperlukan, bukanlah merupakan pekerjaan sehari-hari,
3)      bahan pelajaran sering menjadi luar sehungga dapat mengaburkan pokok unit yang dibahas.[12]

5.      Penilaian kegiatan metode proyek.
Bagaimana guru menilai kegiatan proyek merupakan perwujudan rancangan penilaian yang sudah ditetapkan. Penilaian proyek merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan kegiatan pemberian pengalaman belajr dengan menggunakan metode poryek. Tanpa adanya penilaian kegiatan ini, guru tidak dapat mengetahui apakah tujuan yang ingin dicapai melalui metode proyek itu dapat dicapai secara memadai, efektif,dan efisien.
Dalam kegiatan  belajar mengajar dengan menggunakan metode proyek diharapkan:
a.       Anak dapat memecahkan masalah sesuai dengan tugas yang telah diberikan oleh guru.
b.      Anak menyelesaikan tenggung jawabnya secara tuntas.
c.       Anak dapat menyelesaikan bagian pekerjaan bersama anak lain.
d.      Anak menyelesaikan bagian pekerjaannya secara kreatif.[13]
Berdasarkan hasil kinerja yang dicapai masing-masing anak dalam kelompok kerja, maka guru dapat menarik kesimpulan apakah penerapan metode proyek itu baik sekali, baik atau kurang baik.
Berdasarkan kesimpulan penilaian itu, guru dapat membuat keputusan pengajaran. Apakah kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode proyek itu harus diperbaiki atau ditingkatkan kualitas pelaksanaannya, atau ditinggalkan kualitas pelaksanannya?.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar