Index Labels

Pendekatan Pembelajaran Tematik

Posted by Akmal Debayor

1.  Pengertian Pembelajaran Tematik
Tematik adalah pokok isi atau wilayah dari suatu bahasan materi yang terkait dengan masalah dan kebutuhan lokal yang dijadikan tema atau judul dan akan disajikan dalam proses pembelajaran di kelompok belajar.
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat  memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.
Pembelajaran tematik merupakan bentuk yang akan menciptakan sebuah pembelajaran terpadu, yang akan mendorong keterlibatan siswa dalam belajar, membuat siswa aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan menciptakan situasi pemecahan masalah sesuai dengan kebutuhan siswa, dalam belajar secara tematik  siswa akan dapat belajar dan bermain dengan kreativitas yang tinggi.
Pembelajaran tematik juga dapat diartikan sebagai pola pembelajaran  mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, kemahiran, nilai dan sikap pembelajaran dengan menggunakan tema.
Dari beberapa definisi diatas dapat kita simpulkan bahwa pembelajaran tematik adalah suatu kegiatan pembelajaran dengan memadukan materi beberapa pelajaran dalam satu tema, yang menekankan keterlibatan peserta didik dalam belajar dan pemberdayaan dalam memecahkan masalah, sehingga hal ini dapat menumbuhkan kreativitas sesuai dengan potensi dan kecenderungan mereka yang berbeda satu dengan yang lainnya.
2.      Landasan Pembelajaran Tematik
Landasan Pembelajaran tematik mencakup:
a.       Landasan filosofis dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu: (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, dan (3) humanisme. Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada  pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa. Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya.  Sementara aliran humanisme melihat siswa dari segi keunikan/kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya.
b.      Landasan psikologis dalam pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya.
c.       Landasan yuridis dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar. Landasan yuridis tersebut adalah UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9). UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V Pasal 1-b).

3.      Prinsip Dasar Dan Karakteristik Pembelajaran Tematik
A.  Prinsip Dasar Pembelajaran Tematik
Adapun prinsip yang mendasari pembelajaran tematik adalah sebagai berikut:
1)  Terintegrasi dengan lingkungan atau bersifat kontekstual. Artinya dalam sebuah format keterkaitan antara kemampuan peserta didik dalam menemukan masalah dengan memecahkan masalah nyata yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
2)   Memiliki tema sebagai alat pemersatu beberapa mata pelajaran atau bahan kajian.
3)   Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan (joyful learning).
4)   Pembelajaran memberikan pengalaman langsung yang bermakna bagi peserta didik.
5)   Menanamkan konsep dari berbagai mata pelajaran atau bahan kajian dalam suatu proses pembelajaran tertentu.
6)   Pemisahan atau pembedaan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain sulit dilakukan.
7)   Pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minat peserta didik.
8)   Pembelajaran bersifat fleksibel.
9)   Penggunaan variasi metode dalam pembelajaran.
B.     Karakteristik Pembelajaran Tematik
Sebagai suatu model proses, pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
1.      Berpusat pada siswa
Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered), hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.
2.      Memberikan pengalaman langsung
Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkrit) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.
3.      Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas
Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.
4.      Menyajikan konsep dari berbagai matapelajaran
Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, Siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
5.      Bersifat fleksibel
Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.
6.      Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa
Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
4.  Tujuan Dan  Manfaat Pembelajaran Tematik
      a.  Tujuan Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik dikembangkan selain untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, diharapkan siswa juga dapat:
1.            Meningkatkan pemahaman konsep yang dipelajarinya secara lebih bermakna.
2.            Mengembangkan keterampilan menemukan, mengolah, dan memanfaatkan informasi.
3.            Menumbuh kembangkan sikap positif, kebiasaan baik, dan nilai-nilai luhur yang diperlukan dalam kehidupan.
4.            Menumbuh kembangkan keterampilan sosial seperti kerja sama, toleransi, komunikasi, serta menghargai pendapat orang lain.
5.            Meningkatlkan gairah dalam belajar.
6.            Memilih kegiatan yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
b.  Manfaat Pembelajaran Tematik
Dengan menerapkan pembelajaran tematik, peserta didik dan guru mendapatkan banyak manfaat. Diantara manfaat tersebut adalah:
1.      Pembelajaran mampu meningkatkan pemahaman konseptual peserta didik terhadap realitas sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualitasnya.
2.      Pembelajaran tematik memungkinkan peserta didik mampu mengeksporasi pengetahuan melalui serangkaian proses kegiatan pembelajaran.
3.      Pembelajaran tematik mampu meningkatkan keeratan hubungan antar-peserta didik.
4.      Pembelajaran tematik membantu guru dalam meningkatkan profesionalismenya.
5.      Menyenangkan karena bertolak dari minat dan kebutuhan anak.
6.      Hasil belajar akan bertahan lebih lama karena berkesan dan bermakna.
7.      Mengembangkan keterampilan berfikir anak sesuai dengan permasalahan yang dihadapi.
8.      Menumbuhkan keterampilan sosial dalam bekerja, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
5.  Implikasi Pembelajaran Tematik
Dalam implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar mempunyai berbagai implikasi yang mencakup:
a.   Implikasi bagi guru
Pembelajaran tematik memerlukan guru yang kreatif baik dalam menyiapkan kegiatan/pengalaman belajar bagi anak, juga dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan dan utuh.


b.   Implikasi bagi siswa
1.   Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam pelaksanaannya dimungkinkan untuk bekerja baik secara individual, pasangan, kelompok kecil ataupun klasikal.
2.   Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervariasi secara aktif misalnya melakukan diskusi kelompok, mengadakan penelitian sederhana, dan pemecahan masalah.
c.   Implikasi terhadap sarana, prasarana, sumber belajar dan media
1.   Pembelajaran tematik pada hakekatnya menekankan pada siswa baik secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya memerlukan berbagai sarana dan prasarana belajar. 
2.   Pembelajaran ini perlu memanfaatkan berbagai sumber belajar baik yang sifatnya didisain secara khusus untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran (by design), maupun sumber belajar yang tersedia di lingkungan yang dapat dimanfaatkan (by utilization).
3.   Pembelajaran ini juga perlu mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran yang bervariasi sehingga akan membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang abstrak.
4.   Penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar masih dapat menggunakan buku ajar yang sudah ada saat ini untuk masing-masing mata pelajaran dan dimungkinkan pula untuk menggunakan buku suplemen khusus yang memuat bahan ajar yang terintegrasi.
d.  Implikasi terhadap Pengaturan ruangan
Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran tematik perlu melakukan pengaturan ruang agar suasana belajar menyenangkan. Pengaturan ruang tersebut meliputi:
·         Ruang perlu ditata disesuaikan dengan tema yang sedang dilaksanakan.
·         Susunan bangku peserta didik dapat berubah-ubah disesuaikan dengan keperluan pembelajaran yang sedang berlangsung.
·         Peserta didik tidak selalu duduk di kursi tetapi dapat duduk di tikar/karpet
·         Kegiatan hendaknya bervariasi dan dapat dilaksanakan baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
·         Dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk memajang hasil karya peserta didik dan dimanfaatkan sebagai sumber belajar.
·         Alat, sarana dan sumber  belajar hendaknya dikelola sehingga memudahkan peserta didik untuk menggunakan dan menyimpannya kembali.
e.   Implikasi terhadap Pemilihan metode
Sesuai dengan karakteristik pembelajaran tematik, maka dalam pembelajaran yang dilakukan perlu disiapkan berbagai variasi kegiatan dengan menggunakan multi metode. Misalnya percobaan, bermain peran, tanya jawab, demonstrasi, bercakap-cakap.
6.  Prosedur Pelaksanaan Pembelajaran Tematik
Pada dasarnya ada tiga tahap yang harus dilalui dalam prosedur penerapan pembelajaran tematik, yaitu: [1] perencanaan, [2] pelaksanaan, dan [3] penilaian (evaluasi).
A.    Tahap Perencanaan
Perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah rangkaian rencana yang memuat isi dan kegiatan pembelajaran yang bersifat menyeluruh dan sistematis, yang akan digunakan sebagai pedoman bagi guru dalam mengelolah kegiatan belajar mengajar. Dalam pembelajaran tematik perencanaan yang harus dilakukan adalah sebagi berikut:
1.      Pemilihan tema dan unit-unit tema
Pemilihan tema ini dapat datang dari staf pengajar yaitu guru kelas atau guru bidang studi dan siswa. Biasanya guru yang memilih tema dasarnya dan dengan musyawarah siswa menentukan unit temanya. Pemilihan tema dasar yang dilakukan oleh guru dengan mengacu pada tujuan dan materi-materi pada pokok bahasan pada setiap mata pelajaran yang terdapat pada kurikulum. Tema dapat juga dipilih berdasarkan pertimbangan lain, yaitu: tema yang yang dipilih merupakan konsensus antar siswa, misal dari buku-buku bacaan, pengalaman, minat, isu-isu yang sedang beredar dimasyarakat dengan mengingat ketersediaan sarana dan sumber belajar yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.
1)      Tema dasar-unit tema
            Tema dapat muncul dari siswa, kemudian guru yang mengorganisir atau guru melontarkan tema dasar, kemudian siswa mengembangkan unit temanya.
2)      Curah pendapat
Curah pendapat ini bermanfaat untuk memunculkan tema dasar kemudian dikembangkan menjadi unit tema. Setelah tema dasar dan unit tema dipilih maka terbentuk jaring-jaring.
Menurut Herawati (1998) ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam penentuan tema, yaitu:
(1) Penentuan tema merupakan hasil ramuan dari berbagai materi di dalam satu maupun beberapa mata pelajaran.
(2) Tema diangkat sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran yang terpadu dalam materi pelajaran, prosedur penyampaian, serta pemaknaan pengalaman belajar oleh para siswa.
(3) Tema disesuaikan dengan karakteristik belajar siswa SD sehingga asas perkembangan berfikir anak dapat dimanfaatkan secara maksimal.
(4) Tema harus bersifat cukup problematik atau populer sehingga membuka kemungkinan luas untuk melaksanakan pembelajaran yang beragam yang mengandung substansi yang lebih luas apabila dibandingkan dengan pembelajaran biasa.
Beberapa prosedur pemilihan/penentuan tema menurut Herawati (1998) adalah sebagai berikut:
(1) Model ke 1. Pada model ini tema sudah ditentukan atau dipilih oleh guru berdasarkan GBPP beberapa mata pelajaran yang kemudian dapat dikembangkan menjadi sub-sub tema atau unit tema.
(2) Model ke 2. Pada model ini tema ditentukan bersama-sama antara guru dengan siswa. Meskipun demikian tema tidak boleh lepas dari materi yang akan dipelajari.
(3) Model ke 3. Pada model ini tema ditentukan oleh siswa dengan bimbingan guru.
2.      Langkah perencanaan aktivitas
Langkah perencanaan aktivitas disini meliputi: pemilihan sumber, pemilihan aktivitas dan perencanaan evaluasi. Evaluasi dalam pembelajaran tematik meliputi berikut ini:
1)      Jenis evaluasi yaitu otentik.
2)      Sasaran evaluasi berupa proses dan hasil belajar siswa.
3)      Aspek yang dievaluasi
Kesempurnaan aspek kepribadian siswa dievaluasi yaitu meliputi kognitif, afektif, dan psikomotor.
4)      Teknik-teknik evaluasi yang digunakan meliputi:
a).    Observasi (mengamati perilaku hasil belajar siswa) dengan menggunakan daftar cek, skala penilain, catatan anekdot.
b).    Wawancara guru dan siswa dengan menggunakan pedoman wawancara.
c).    Evaluasi siswa.
d).   Jurnal siswa.
e).    Portofolio.
f).     Tes prestasi belajar (baku atau buatan guru).
5)      Kontrak belajar
Kontrak belajar ini akan memberikan arah dan isi aktivitas siswa dan merupakan suatu kesepakatan antara guru dan siswa.
B.     Tahap Pelaksanaan
Adapun dalam pelaksanaannya, penerapan pembelajaran tematik dapat   mengikuti langkah-langkah berikut:
1.      Kegiatan pembukaan
            Kegiatan pembukaan merupakan kegiatan untuk apersepsi yang sifatnya pemanasan. Kegiatan ini dilakukan untuk menggali pengalaman peserta didik tentang tema yang akan disajikan. Selain itu, guru juga harus mampu memfasilitasi suatu kegiatan yang mampu menarik peserta mengenai tema yang akan diberikan. Diantaranya beberapa kegiatan yang dapat menarik perhatian siswa adalah bercerita, menyanyi, atau olah raga.
2.      Kegiatan inti
            Kegiatan inti dalam kegiatan tematik difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang diarahkan untuk mengembangkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung bagi peserta didik. Dalam kegiatan ini, pembelajaran menekankan pada pencapaian indikator yang ditetapkan. Untuk menghindari kejenuhan peserta didik pada kelas-kelas awal tingkat pendidikan dasar (SD/MI) , pendekatan pembelajaran yang paling tepat digunakan adalah "belajar sambil bermain" atau "pembelajaran yang menyenangkan" (joyful learning).
3.      Penutup
Kegiatan penutup dilakukan dengan mengungkap hasil pembelajaran, yaitu dengan cara menanyakan kembali materi yang sudah disampaikan dalam kegiatan inti. Pada tahap penutup guru juga harus pintar-pintar menyimpulkan hasil pembelajaran dengan mengedepankan pesan-pesan moral yang terdapat pada setiap materi pembelajaran.
C.        Tahap Penilaian (Evaluasi)
Dalam pembelajaran tematik, penilaian merupakan usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai, baik berkaitan dengan proses maupun hasil pembelajaran. Oleh karena itu, penilaian (evaluasi) pembelajaran tematik dilakukan pada 2 (dua) hal, yaitu: [1] penilaian terhadap proses kegiatan dan [2] penilaian hasil kegiatan. Dengan dilakukan penilaian, guru diharapakan dapat:
a.       Mengetahui pencapaian indikator yang telah ditetapkan.
b.       Memperoleh umpan balik, sehingga dapat mengetahui hambatan yang terjadi dalam pembelajaran maupun efektifitas pembelajaran.
c.       Memperoleh gambaran yang jelas tentang perkembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik.
d.      Menjadikan acuan dalam menentukan rencana tindak lanjut (remedial, pengayaan, dan pemantapan).


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar